Jalan PDBK #7: Kerja Keras?


Dalam banyak kesempatan kalakarya dan atau dialog dengan daerah, pada saat sesi paparan hasil survey Riskesdas yang menunjukkan output kinerja yang jauh dari harapan, seringkali terlontar sanggahan defensif dengan kemarahan luar biasa;

“Kami telah bekerja keras pak...”
“Kami ini sudah terlalu sering lembur pak...”
“Kami sudah kejar sasaran sampai ke rumahnya pak...”
“Bapak ini bicara seolah kami ini tidak berkerja...”
“Sudah semua cara kami lakukan pak! Kami sudah maksimal...”
“Bapak enak cuman ngomong doang, kami ini yang di lapangan sudah bekerja sangat keras!”
“Bapak ini tidak tahu situasi lapangan, hanya bicara angka-angka saja...”

Begitu banyak yang terlontar, begitu banyak yang terucap, dan hampir semuanya tersampaikan dengan emosi yang tersulut, meski kadang disampaikan dengan nada lirih yang tertahan.
Meski sebenarnya pengennya misuh-misuh*... (*mengumpat,red)

“Apakah mereka tidak bekerja keras?”
Heiii! Mereka bekerja keras!
Sangat keras bahkan...
Pekerja kesehatan banyak kali merupakan pekerja keras. Tak jarang mereka benar telah melakukan banyak hal melebihi gaji yang mereka terima.

Kemarahan yang ditunjukkan dengan kalimat defensif massif benar-benar mewakili pernyataan bahwa mereka telah bekerja keras, bahwa mereka telah bersama-sama melakukan banyak hal untuk kesehatan di wilayahnya, untuk masyarakat yang diampunya.

Saya ulang pertanyaannya,
Apakah mereka telah bekerja keras?”
Dan berdasarkan amatan lapangan, tidak bisa kita pungkiri mereka memang benar telah bekerja keras! Sangat keras!!!
Mereka, yang tergabung dalam wadah Dinas Kesehatan telah bekerja bersama-sama dengan sangat, untuk berusaha membangun kesehatan yang lebih baik di wilayahnya.
Dan lalu apa yang kurang?
Kerja sama!
Yup, kerja sama!
Mereka telah bekerja keras bersama-sama, tapi seringkali belum bekerja sama.

Maksud???
Dalam sebuah kerja sama, yang dibutuhkan bukan hanya kerja keras, tapi ada koordinasi di dalamnya, ada dialog di antara para pelakunya.

Dialog???
Yaa... dialog! Yang seringkali kita bawa dan dengungkan dimana-mana.
Dialog bukan hanya sekedar media koordinasi. Dialog juga merupakan media saling memahami dengan visi bersama. Dialog adalah media melebur struktur internal menjadi sebuah struktur kolektif. Dialog merupakan sebuah therapi wicara, yang kadang kita terlupa, bahwa banyak para rekan kita di lapangan butuh didengar keluhannya, kadang bukan untuk dicarikan sebuah solusi, kadang mereka benar-benar hanya ingin didengar, mereka sudah memiliki solusi ampuh atas masalah di lapangan itu. Bukankah justru mereka yang paling tahu masalah yang mereka hadapi?

Bekerja sama!
Dan bukan hanya bekerja keras bersama-sama...

Piye jal?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar