Jalan PDBK #3; Musuh Bersama



Garuda, langit Surabaya-Jakarta, 08 November 2011


Dear all,

Dalam sebuah kalakarya PDBK di tingkat kabupaten, suasana begitu memanas, masing-masing komponen pengikut kalakarya saling hujat, saling serang, mencari pembenaran untuk dirinya sendiri.

Jebloknya status kesehatan yang dipaparkan narasumber dengan senjata IPKMnya mampu menimbulkan chaos, yang kalo saya melihat lebih seru ketimbang tawuran anak SMA.
Sungguh sayang, sampeyan semua ga ikut menikmati tontonan seru dan gratis ini.

Suasananya memanas dan terus memanas, sang nara sumber tetap saja berapi-api menjungkirbalikkan kenyataan buah kerja keras yang sudah dilakoni para ponggawa lapangan ini.

Setiap ponggawa yang pada awalnya saling serang, berangsur saling membenarkan, saling dukung, bahu membahu, mengutuk sang nara sumber tak tahu diri itu.
Yak... terfokus pada satu titik!
Mahluk bertanduk yang berdiri di depan dengan pongah membuka satu persatu ‘aib’ buah cucuran keringat dan darah mereka.
Pada akhirnya mereka bertekad, menyatukan semuanya... niat, harkat dan martabat!
demi membuktikan bahwa nara sumber pongah itu tidak benar! Semua yang dipaparkan salah!

Jalan PDBK mengajarkan lagi satu cara, ciptakan musuh bersama!


-ADL-

Jalan PDBK #2; Bertumbuh

by Agung Dwi Laksono


Garuda, langit Surabaya-Jakarta, 08 November 2011


Dear all,

Kesempurnaan sebagai seorang mahluk adalah keinginan hampir setiap manusia, siapapun dia.
Pencapaian kesempurnaan mungkin bisa dilihat dari perangai yang jauh lebih santun, lebih wise, lebih nerimo, lebih matang. Ibarat buah durian, aromanya dari jauh sudah mengundang selera.

Penilaian ‘matang’ seharusnya datang dari yang ‘melihat’, bukan yang ‘merasa’.
Atribut pengakuan dari dia, dia, dan dia... mereka!
Bukan dari saya, saya, dan saya... kita!

Jalan PDBK mengajarkan, kita bukanlah salah satu dari yang matang itu.
Ibarat mangga kita ini masih kemampo, masih mengkal.

Kita adalah pribadi-pribadi yang masih bertumbuh, masih terus mencari, masih terus memupuk harapan, masih sangat haus belajar, masih sangat bernafsu menjadi matang.
Yak... kita adalah pribadi yang sepenuhnya masih bertumbuh.

Ehh jangan salah sangka dulu...
Ibu hamil muda itu seneng lho dengan mangga mengkal!


-ADL-

Jalan PDBK #1; Memberi Kail



Juanda_Surabaya, 08 November 2011


Dear all,

Keberadaan kita sebagai orang ‘pusat’ seringkali lebih berperan sebagai dewa penolong yang lebih mirip sinterklas yang bagi-bagi kue. Meski juga tak terlepas dari peran daerah yang menganggap di ‘pusat’lah semua bongkahan emas berada. Sehingga stereotype ini jugalah yang mengakar di setiap benak kita.

PDBK menawarkan cara ketidakbiasaan, yang saya lebih senang menyebutnya sebagai ‘Jalan PDBK’. Cara ini mirip, kalo tidak boleh dibilang identik, dengan kegemaran Pak PUR, mancing!

Dengan cara pandang lain, penggiat PDBK hanya diperkenankan membagikan banyak kail, bukannya ikan. Memberikan banyak cara belajar, kiat bekerja, tehnik menggerakkan, dan dengan apapun jalan itu disebut.

Penggiat PDBK dimakruhkan untuk bicara materi, meski juga kita tak menampik pernah benar-benar lepas dari yang namanya bondo ndonya.

Mari belajar untuk tidak keseringan memberi ‘ikan’, mari belajar memberi ‘pancing’, mari belajar mengajar tehnik ‘memancing’. Meski saya tak pernah menampik kenyataan bahwa ikan patin bakar kecap yang masih hangat itu sungguh nikmat!


-ADL-

Kebijakan ini-itu!


dear all,

kebanyakan dari kita... saya dan sampeyan2 semua, yang bisa berkutat dengan facebook adalah jenis yang paparan terhadap informasi dan pelayanan kesehatan sudah bisa dibilang cukup! dan bahkan mungkin berlebih...
meski untuk mengaksesnya tetep juga dibutuhkan duit! hehehe...

akses pelayanan kesehatan di negeri kepulauan terbesar di dunia ini, sampai saat ini bukan hanya akses soal duit, ntu mah udah advance!
yang lebih mendasar, yang dari jaman baheula nyampe saat ini masih tetep jadi masalah adalah ketersediaannya, baik fasilitas pelayanannya maupun soal ketersediaan tenaganya.
siapapun yang jadi menteri kesehatannya... saya jamin masih akan mumet tujuh turunan!

pertiwi kita sangat luas, dengan disparitas antar wilayah masih juga sangat lebar.
teknologi kedokteran paling mutakhir bisa jadi kita sudah memilikinya! singapura ato malaysia sih lewaaaat...
tapi tetep aja masih ada daerah yang bahkan untuk mencapai puskesmas pembantu ato polindes kesulitan, dan ato bahkan tidak ada akses!
Bukan isapan jempol, saya.. dengan mata kepala sendiri pernah menjumpainya…

Terlalu luasnya wilayah yang harus dijangkau, terlalu banyaknya komunitas yang harus dilayani, terlalu bervariasinya ekonomi dan pendidikan menjadi tantangan tersendiri untuk semua jenis pelayanan publik di negeri ini, terlebih bidang kesehatan.

Kita betul2 kekurangan tenaga!
…sudah tenaganya dikit, ngumpul di kota besar pula!


***
Diam2 kita menyimpan bara api yang cukup laten.
untuk perluasan akses dan pemerataan pelayanan kesehatan, pemerintah seperti kebingungan dalam mengambil kebijakan. banyak kebijakan yang dibuat dalam kenyataan di lapangan justru ditabrak sendiri.

pemerintah membesut undang2 praktek kedokteran yang melarang praktek tindakan medis dilakukan oleh profesi selain dokter, tapi di sisi lain juga dikeluarkan kebijakan soal poskesdes, yang notabene digawangi oleh paramedis, yang jelas2 bukan dokter. Belum lagi bidan pun boleh melayani pengobatan, meski katanya terbatas pada penyakit yang menyangkut kebidanan, tapi siapa yang tau praktek di lapangan…
*saya tau lahhh! hehehe…

ketegangan dengan organisasi profesi pun tidak bisa dihindarkan...
dalam catatan saya…
organisasi profesi kumpulan dokter spesialis obgyn pun protes terhadap kebijakan kementerian kesehatan yang memperbolehkan bidan berpraktek mandiri, meski juga dengan dalih menolong persalinan normal.
Organisasi profesi dokter pun keberatan dengan keberadaan paramedik (perawat & bidan) yang berpraktek mandiri, yang bukannya berpraktek asuhan keperawatan, tapi lebih pada kuratif, yang bahkan sudah sangat invasif.

Klo sampeyan yang jadi menteri kesehatannya piye jal? Mumet po ora?

Pemerintah dihadapkan dengan angka kematian ibu yang meski turun, tapi tetap saja memprihatinkan. Sedang cakupan persalinan ke tenaga kesehatan pun juga mengecewakan.
Untuk itu maka pemerintah mengambil beberapa kebijakan soal kebidanan, mulai dari dokter plus (dokter yg diberi tambahan kursus gynecology) sampai pada menggenjot jumlah lulusan bidan.

Bukan hanya lulusan bidan, lulusan tenaga kesehatan yang lain pun ikut2an digenjot demi memenuhi ketersediaan dan aksesibilitas pelayanan kesehatan. Maka tumbuh suburlah akademi dan sekolah tinggi kesehatan di negeri garuda ini.

Eitsss… masalah belon selesai…
Tumbuh suburnya akademi dan sekolah tinggi kesehatan bukannya lepas dari masalah! Sekolahan yang lulusannya banyak bekerja dengan urusan terkait nyawa manusia ini pun cukup banyak yang begajulan…
Yang cuman sekedar lulus pun tak sedikit!
Belon lagi soal dualisme penyelenggaraan pendidikan kesehatan ini! antara besutan Dirjen Dikti Kementerian Pendidikan Nasional dengan PPSDM Kementerian Kesehatan. Wis tambah mumeeet…

***
Pemerintah bukannya tidak tau dan tidak mau tau soal standar yang ngotot dijadikan landasan oleh organisasi profesi dalam memprotes setiap kebijakan.
Tapi pemerintah juga dihadapkan dengan masalah ketersediaan dan akses yang harus dengan cepat diselesaikan, sementara organisasi profesi belum bisa memberi solusi manjur.

so... kebijakan kebanyakan bukan soal salah ato benar.. tergantung kita mau memilih kebijakan yg mana.. yg terpenting adalah konsekuensi dr setiap pilihan.. bisakah kita mengantisipasi konsekuensi pilihan kita?

*sorry mumet!

...yang Muda yang Bermasalah!

by Agung Dwi Laksono



dear all,

Data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan via Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan tentang situasi perkembangan terakhir HIV & AIDS di Indonesia menunjukkan bahwa sampai dengan triwulan 2 (Juni 2010) jumlah kumulatif penderita HIV & AIDS mencapai 21.770.
angka ini berdasarkan laporan dari 300 kabupaten/kota dari 440 lebih kabupaten/kota di Indonesia. artinya bahwa data tersebut tentu saja masih sebagian dari angka sebenarnya, apalagi fenomena gunung es berlaku untuk prevalensi HIV & AIDS.

yang cukup memprihatinkan bahwa prevalensi terbanyak justru ada pada kelompok usia produktif!
yaitu pada kelompok umur 20-29 tahun (48,1%), kelompok umur 30-39 tahun (30,9%), dan ranking ke-tiga pada kelompok umur 40-49 tahun (9,1%).

berdasarkan prediksi Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) angka kumulatif ini akan berkembang sangat pesat bila tidak ada perlakuan khusus berupa universal access. diprediksikan pada tahun 2015 terjadi peningkatan kasus menjadi sebesar 924.000 kasus dengan prevalensi 0,49%. Angka ini melonjak tajam menjadi 2.117.000 kasus pada tahun 2025 dengan prevalensi 1,00%.



menurut KPAN Lonjakan ini bisa dicegah menjadi kurang dari setengahnya bila sasaran universal access dapat dicapai pada tahun 2014. Universal access yang dimaksud adalah 80% sasaran kunci dijangkau oleh program yang efektif dan 60% populasi kunci berperilaku aman.

Dalam strategi maupun rencana aksi nasional yang disusun KPAN, yang termaktub dalam ‘Strategi dan Rencana Aksi Nasional tahun 2010-2014’ yang paling utama adalah upaya pencegahan. Meski demikian, kegiatan pokok pencegahan yang disusun oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional yang tertuang dalam dokumen tersebut hanya pencegahan penyakit yang berkaitan langsung dengan penderita. Hal ini tercermin pada kegiatan layanan yang dikampanyekan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, yang terdiri dari 6 (enam) jenis layanan, antara lain
  1. Layanan Konseling & Tes Sukarela (Voluntary & Counseling Test/VCT),
  2. Pelayanan, Dukungan & Perawatan (Combination Drug Therapy/CST),
  3. Layanan Infeksi Menular Seksual (IMS),
  4. Layanan Program Pencegahan Ibu ke Anak (Preventing Mother-to-Child Transmission/PMTCT),
  5. Layanan Alat Suntik Steril (LASS), dan
  6. Layanan Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM).
sepertinya Upaya pencegahan dengan sasaran masyarakat umum menjadi kurang terperhatikan. strategi pencegahan yang berdasarkan karakteristik ODHA yang up to date kurang diadopsi dalam rencana aksi tersebut.

menurut saya strategi pencegahan terbaik adalah di hulu, meski tetap dengan memperhatikan dan melaksanakan pencegahan dan therapi yang di hilir.
strategi pencegahan di hulu bisa dilakukan pada kelompok yang lebih muda dari kelompok umur paling dominan (20-29 tahun). artinya bahwa kelompok umur di bawah 20 tahun (teenager) merupakan sasaran strategis yang paling punya daya ungkit dalam menekan angka laju pertumbuhan HIV & AIDS.
upaya pencegahan bisa dimulai dengan sosialisasi ato penyuluhan hal yang paling mendasar dari konsep kesehatan reproduksi, karena pada kelompok umur tersebut merupakan fase 'coba2' dengan keingintahuan yang sangat besar.

bagaimana menurut sampeyan??!